Blog - Kabar Ikatan - Opini

Membaca IMM: Trilogi dan Tri Kompetensi Dasar

Ilustrasi: MI ASM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah organisasi mahasiswa yang memiliki landasan bergerak. Landasan tersebut adalah Trilogi ikatan, yakni kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Trilogi ikatan merupakan sebuah hal yang penting dalam memaknai dan menjadikan fondasi bagi IMM berada dalam jalur perjuangan.   

Perlu untuk diketahui bahwa, IMM adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 14 Maret 1964 di Yogyakarta. Oleh sebab itu, gerakan IMM tidak lepas dari arah perjuangan Muhammadiyah.

Seperti yang tercantum dalam “Enam Penegasan IMM” khususnya poin kedua yang, menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM. Dan juga point ketiga, “fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa Muhammadiyah”.

Selanjutnya, dalam Anggaran Dasar IMM, Bab III tentang Tujuan dan Usaha, pada pasal 7 menyatakan bahwa tujuan IMM adalah menciptakan akademisi Islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan dan cita-cita Muhammadiyah.

Artinya, kehadiran IMM adalah sebagai pionir  Muhammadiyah dalam hal keilmuan, hal ini dikarenakan tujuan serta basis massa IMM adalah masyarakat akademis yang memiliki rasionalitas dan bersikap ilmiah dalam mengambil tindakan serta mengedepankan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.

Trilogi IMM merupakan intisari dalam deklarasi IMM pada waktu Musyawarah Nasional (Muktamar) IMM di Kota Barat, Solo, 5 Mei 1965. Trilogi termaktub dalam Anggaran Dasar IMM, pada Bab II pasal 5, yakni IMM adalah gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan.

Tulisan ini akan mengulas terkait Trilogi IMM yang hari ini sering diabaikan, dimaknai secara normatif, dan tidak dijadikan landasan ber-IMM oleh kader. Padahal, trilogi mempunyai nilai filosofis sebagai pedoman dalam gerakan IMM. Sekaligus penumbuh semangat ber-IMM.

Krisis Identitas dan Nilai Trilogi IMM

Pemaknaan terkait Trilogi penting untuk dipercakapkan dalam gerakan IMM. Khususnya pada kader IMM Sulawesi Utara, apalagi yang berada dalam jenjang Pimpinan Komisariat. Krisis identitas dan nilai filosofis dalam tubuh IMM, disebabkan ketidakpahaman terhadap Trilogi dan Tri Kompetensi Dasar. Kader IMM yang saat ini semacam abai akan nilai dari Trilogi dan Tri Kompetensi.

Padahal, Trilogi IMM merupakan landasan bergerak IMM. Dalam Sistem Pengkaderan Ikatan (SPI), pemaknaan Trilogi dalam ikatan disebut sebagai Tri Kompetensi Dasar yaitu, intelektualitas-religiusitas-humanitas. Akan tetapi, karena ketidakpahaman terhadap Trilogi dan Tri Kompetensi Dasar.

Menerjemahkan nilai religiusitas dilakukan hanya dengan bentuk simbol berpakaian, bukan pada kesadaran akan habluminallah dan habluminannas. Serta bersikap toleran terhadap yang berbeda.

Sedangkan menerjemahkan nilai intelektualitas dengan rangkaian diskusi dan seminar yang bersifat seremonial dan superfisial, bukan diwujudkan pada kesadaran berpikir kritis.

Begitu juga dengan menerjemahkan nilai humanitas yang hanya terbatas pada program kerja semacam bakti sosial—yang bersifat jangka pendek dan yang pasti bersifat seremonial, bukan program yang berdampak panjang seperti pemberdayaan terhadap masyarakat dan advokasi kepada masyarakat yang tertindas.

Tentunya hal ini menjadi auto kritik terhadap saya. Sebagai kader IMM sering abai dan tidak begitu paham terkait Trilogi IMM. Padahal, pada dasarnya IMM hadir karena semangat berintelektual, serta gerakan perjuangan kemanusiaan.

Kader IMM tidak hanya sekadar tahu tentang Trilogi dan Tri Kompetensi Dasar IMM. Akan tetapi, bagaimana kader IMM mamahami, menghayati, dan mengerakkan nilai IMM itu, sebagai api intelektualitas dan perjuangan kemanusiaan yang terintegrasi dalam diri kader.

Mempercakapkan Trilogi dan Tri Kompetensi Dasar

Kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan adalah tiga kata kunci penting yang harus inheren dalam diri setiap kader IMM.

Pertama, kemahasiswaan yang merupakan penerjemahan IMM sebagai bagian dari gerakan mahasiswa Islam. Kedua, keagamaan yang merupakan pengaplikasian dari kepribadian Muhammadiyah sebagai dasar dan landasan perjuangan, sedangkan kemasyarakatan merupakan amal yang diabdikan bagi ikatan untuk nusa dan bangsa (Sani, 2011).

Trilogi IMM menjadi ruh dalam tubuh IMM, serta sebagaai landasan bergerak IMM. Trilogi IMM sebagai bentuk basis pengetahuan, identitas, dasar gerakan dan arena perjuangan, seharusnya Trilogi bisa mengakar dalam tiap diri seorang kader IMM (Ahmadi & Anwar, 2014).

Adapun, Trilogi yang pertama, keagamaan dalam Tri Kompetensi disebut religiusitas, yang merupakan pondasi IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam tidak bisa dilepaskan dalam tradisi Islam.

Religiusitas tidak hanya terletak pada keyakinan individu kader terhadap Tuhan dan tidak terbatas pada sarana simbolik. Tapi, juga melibatkan unsur-unsur yang lain. Seperti lingkungan, sosial, ekonomi, budaya dan seterusnya.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasan Hanafi bahwa dalam tiga tradisi agama. Pertama, tradisi klasik yang digunakan agama sebagai semangat pembebasan dan praksis sosial. Kedua, adalah tradisi sekarang yang dikenal sebagai Oksidentalimse.

Tradisi sekarang ini mejadikan umat Islam melihat peradaban barat yang maju dan kita belajar dari peradaban barat tersebut, yang menjadikan ilmu untuk kemanusiaan.

Ketiga, tradisi masa depan yakni tradisi yang menjadikan Islam bersentuhan dengan tradisi sekarang dan meramalkan Islam merekontruksi peradaban. Artinya, tradisi kedepan adalah penggalian atau pemaknaan ajaran agama yang bercorak liberatif, emansipatoris, dan berpihak pada keadilan dan kesetaraan. Islam di sini menjadi sumber dan inspirasi dalam mengatasi problem-problem sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Dengan demikian sebagai organisasi mahasiswa Islam, pemahaman IMM terhadap Islam harus Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kader IMM harus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, dalam gerakan apapun, mulai dari menjaga lingkungan dan tidak menyakiti orang lain, hal ini sebagai bentuk manifestasi fastabiqul khairat.

Selanjutnya, trilogi yang kedua, yakni kemahasiswaan, dalam tri kompetensi disebut sebagai intelektualitas, sebagaimana yang kita ketahui bahwa kata intelektual melekat dengan mahasiswa.

Sebagai organisasi kemahasiswaan otomatis kerja-kerja IMM adalah kerja intelektual. Menurut Bourdieu, intelektual menanggung kepentingan universal. Intelektual harus mempertahankan kebenaran dan keberpihakan pada yang tertindas. Menjadi intelektual adalah merdeka dalam berkarya, belajar dan menyuarakan kepentingan kelompok yang terpinggirkan.

IMM hadir sebagai gerakan intelektual dan menciptakan wadah untuk kader-kader dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Gerakan intelektual dipahami sebagai bentuk pengakaran pengetahuan dan pertumbuhan nalar kritis dalam tubuh IMM—yang sering ditandai dengan semakin  berseminya beragam karya dan pemikiran pada kader IMM (Ahmadi & Anwar, 2014).

Intelektualitas IMM tidak bisa lepas dari tiga tradisi, yakni membaca, menulis dan berdiskusi. Tiga tradisi itu menjadi keharusan dalam gerakan intelektual IMM. Gerakan keilmuan dalam IMM merupakan obor keberanian dalam melakukan pilihan secara sadar dan merenungkan gerakan IMM, serta keberpihakan. Intelektualitas juga sejalan dengan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia untuk mencapai tujuan dan cita-cita Muhammadiyah.

Ketiga, kemasyarakatan, jika diinterpretasi dalam tri kompetensi menjadi humanitas. Menurut humanitas yang dilakukan oleh IMM merupakan hasil tuntutan atas realitas yang mengalami dehumanisasi.

Atas dasar kesadaran penindasan terhadap manusia yang dilakukan oleh sistem sosial. Hal itulah yang mewajibkan IMM hadir hingga saat ini, untuk membebaskan dan berpihak kepada kelompok rentan yang sering mendapatkan penindasan. (Sani, 2011).

Abdul Halim Sani juga memberikan satu gambaran terhadap pembebasan yang dilakukan oleh nabi Musa dalam memerdekakan kaumnya dari penindasan Fir’aun. Ia menggunakan konsep kenabian untuk mendefinisikan kemasyarakatan atau humanitas dari IMM. Artinya, humanitas IMM hadir dengan semangat kenabian.

Dengan demikian, Trilogi harus dimaknai dan dijalankan dengan nilai-nilai filosifis. Sebab Trilogi sebagai prinsip yang vital dalam tubuh IMM. Adapun Tri Kompetensi Dasar menjadi tuntutan kader untuk terintegrasi dalam keilmuan, agama, dan kemanusiaan.

Artinya ketiga kompetensi itu harus berada dalam diri kader. Tetapi, dalam diri kader salah satu dari ketiga kompetensi tersebut ada yang dominan sebagai ciri kader yang spesifik.

Dalam SPI, Trilogi dan Tri Kompetensi menjadi sangat penting untuk diinternalisasi dalam diri kader. Sebab pelaksanaan kompetensi dasar yang secara lengkap dalam diri kader merupakan cerminan manusia paripurna-nya (insan kamil) ikatan, atau profil kader IMM.

Referensi

Makhrus Ahmadi & Aminuddin Anwar, Geonologi Kaum Merah Pemikiran dan Gerakan, Mahakarya Rangkang Offset Yogyakarta, Mei 2014.

M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profektif Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Samudra Biru, 1 Maret 2011.

Arizal Mutahir, Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu Sebuah Gerakan Untuk Melawan Dominasi, Kreasi Wacana, Januari 2011.

Penulis:

Fajrin Ramdhani Gobel adalah Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IAIN Manado Periode 2025-2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *