
Dalam kehidupan beragama di Indonesia, kelompok Ahmadiyah sering kali menjadi sorotan dan menghadapi perlakuan intoleransi dan stigma negatif dari sebagian masyarakat.
Persepsi yang sering berkembang cenderung melihat Ahmadiyah dengan kecurigaan, prasangka dan penolakan, bahkan disertai diskriminasi dan kekerasan. Stigma ini biasanya muncul karena ketidakpahaman terhadap ajaran dan praktik keagamaan yang dianut kelompok Ahmadiyah—sehingga melahirkan stereotip yang keliru dan merugikan kelompok Ahmadiyah di Indonesia.
Stigma ini tidak hanya menjadi masalah pada aspek teologis, tetapi juga berdampak pada aspek sosial. Stigma negatif terhadap Ahmadiyah berujung pada diskriminasi, persekusi dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah.
Buku Menyingkap Tabir Kebenaran Ahmadiyah karya dari Dr. Samsi Pomalingo, MA, hadir dengan gagasan akademis yang mencoba mengurai ketidaktahuan dan prasangka—yang selama ini dialamatkan kepada Ahmadiyah.
Buku ini, mengonter atau melawan stigma sesat terhadap tuduhan-tuduhan yang selama ini membayang-bayangi kelompok Ahmadiyah. Dengan pendekatan partisipatif, penulis menemukan bahwa selama ini tuduhan kafir dan sesat terhadap Ahmadiyah hanyalah ujaran kebencian dari kelompok pembenci.
Karya akademik dari Samsi Pomalingo mengunakan penelitian insider. Penulis buku ini telah berinteraksi secara langsung, tinggal bersama dan pergi ke beberapa lokasi Ahmadiyah seperti di Gowa, Makassar, Kotamobagu, Parung, Bandung, Gorontalo dan Manislor.
Mungkinkah Ahmadiyah Adalah Agama Baru?
Memahami Ahmadiyah harus dengan orang Ahmadiyah langsung, bukan malah melihat dari luar dan mendengar dari para pembenci Ahmadiyah. Ahmadiyah sering dituduh bukan agama Islam melainkan agama baru atau agama dari luar Islam.
Penulis mengutip tiga ahli yang mengkategori Ahmadiyah. Pertama, Ahmadiyah sebagai gerakan keagamaan, artinya sama seperti organisasi Muhammadiyah dan NU. Kategori ini diberikan oleh Muhammad Iqbal.
Kedua, Ahmadiyah sebagai gerakan teologi, yang sama dengan Syi’ah, Muktajilah, Jabariyah dan seterusnya. Kategori ini diberikan oleh Wilferd C. Smith.
Ketiga, Ahmadiyah sebagai gerakan intelektual. Kategori ini diberikan oleh H.A.R Gibb. Dari tiga kategori para ahli tidak ada yang menyebutkan Ahmadiyah sebagai agama baru atau agama di luar agama Islam.
Ahmadiyah lahir pada abad ke-19 di Qadian, Punjab, India—yang didirikan oleh Mirza Gulam Ahmad, ketika itu Ahmadiyah sebagai kelompok agama Islam yang mencoba mencegah kristenisasi yang sedang masif yang terjadi di India.
Ahmadiyah hadir sebagai tameng spiritual dan intelektualitas untuk menjaga akidah umat Islam pada saat ancaman kristenisasi di India. Munculnya Ahmadiyah di India merupakan peristiwa sejarah dalam Islam yang tidak terlepas dari situasi pada saat itu, kemunduran umat Islam dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial di India.
Membongkar Kebenaran Ahmadiyah dan Menyingkirkan Tuduhan Sesat
Penulis menyebutkan sekiranya ada sembilan tuduhan dan fitnah sesat terhadap Ahmadiyah. Yakni Nabi Ahmadiyah bukan Nabi Muhammad SAW, kiblatnya bukan ke baitullah, hajinya bukan ke Makkah, kitab suci Ahmadiyah bukan Al-Qur’an melainkan Tadzkirah, syahadatnya berbeda, shalat antara laki-laki dan perempuan digabungkan dan lampunya dimatikan, memiliki kapling surga sendiri untuk Ahmadiyah, kalau sholat di tempat Ahmadiyah bekas shalatnya dibersihkan, orang Ahmadiyah dilarang shalat di masjid lain.
Tuduhan utama terhadap Ahmadiyah terkait penafsiran kenabian, bahwa mereka dianggap menyimpang dari ajaran Islam mayoritas dengan mengklaim adanya kenabian setelah Nabi Muhammad SAW. Yakni Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi.
Namun jika menelisik lebih mendalam, Mirza Ahmad menyakatan bahwa “dirinya seperti debu yang menempel di kaki Nabi Muhammad SAW.” Dan dirinya bukan sebagai nabi yang membawah syariat baru atau hukum baru dalam Islam.
Penulis mencoba untuk memotret bahwa, selama meneliti dan tinggal di Ahmadiyah dan berinteraksi dengan jemaat Ahmadiyah, bahwa selama ini yang kita dengar tentang tuduhan terhadap Ahmadiyah sangatlah tidak benar. Tuduhan ini muncul oleh orang-orang yang membenci Ahmadiyah.
Tuduhan kesesatan tidak selalu melalui proses yang didasari pada analisis yang mendalam, tetapi sering kali dipengaruhi oleh sentimen emosional dan politik.
Di Indonesia, Ahmadiyah menjadi kelompok yang selalu mendapatkan diskriminasi dan kekerasan yang nyata. Dalam banyak kasus, pemimpin agama atau segelintir masyarakat menggunakan tuduhan ini sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan atau pengaruh mereka dalam masyarakat.
Satu aspek yang mencolok dari diskriminasi terhadap Ahmadiyah adalah pengakuan resmi pemerintah yang tidak mendukung keberadaan Ahmadiyah sebagai satu aliran dalam Islam yang diputuskan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Ahmadiyah dikeluarkan pada 9 Juni 2008. SKB ini menjadi legitimasi terhadap segelintir masyarakat untuk melakukan pelarangan terhadap Ahmadiyah.
Ahmadiyah dan Toleransi Beragama: Love For All, Hatred For None
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa Ahmadiyah yang sering mengalami tindakan diskriminasi dan kekerasan—terus membuka diri terhadap kelompok pembencinya? Hemat saya—dengan memegang visi kemanusiaan yang sangat kuat sebagai bagian dari ajaran dan misinya Ahmadiyah adalah salah satu gerakan yang berupaya untuk menebarkan pesan toleransi dan kedamaian.
Dengan moto “Love For All, Hatred For None” (cinta kasih untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun) adalah komitmen Ahmadiyah terhadap perdamaian, kasih sayang, dan menghormati hak asasi manusia.
Ahmadiyah yang meskipun sering menghadapi diskriminasi dan selalu dipinggirkan—tidak menjadikan hal itu untuk mereka menutup diri dari kelompok yang lain. Mereka justru membuka diri dengan berdialog sebagai jembatan keharmonisan antar umat beragama.
Barangkali banyak kelompok agama yang terjebak dalam siklus kebencian, Ahmadiyah menunjukkan bahwa dengan pendekatan—yang penuh cinta dan kasih dapat membuka jalan menuju perdamaian dan keharmonisan dengan mengedepankan dialog dan kerjasama dalam satu visi yaitu—visi kemanusiaan.
Adapun dalam merayakan seabad Ahmadiyah pada tahun 2025 mereka mengusung tema “Memancarkan Islam Penuh Cinta dan Kedamaian”. Ahmadiyah mengajak seluruh umat Islam untuk mengedepankan kasih kepada sesama manusia. Dengan tidak mengindahkan sama sekali sikap-sikap intoleransi.
Pada akhir tulisan ini, penting untuk menyadari bahwa jika ingin memahami sesuatu kelompok tertentu kita perlu mengetahui melalui kelompok itu sendiri atau orang yang benar-benar paham kelompok tersebut. Sebab hal ini menghindarkan kita dari prasangka dan cugira terhadap kelompokk tertentu.
Tema-tema dalam buku ini cukup mentrigger kita mendalami dan mendekatkan diri terhadap kelompok Ahmadiyah. Buku ini penting untuk dibaca dalam menggali aspek historis Ahmadiyah dan gerakan sosial yang dilakukan oleh Ahmadiyah di Indonesia.
Buku yang mengulas terkait Ahmadiyah lainnya—yang penulisnya langsung mengunjungi Qadian, India dan tidur di kamar Mirza Gulam Ahmad adalah Najib Burhani, menulis buku berjudul, “Menemani Minoritas”.
Judul Buku: Menyingkap Tabir Kebenaran Ahmadiyah (Sebuah Kesaksian Spiritual Tentang Jemaat Ahmadiyah)
Penulis: Samsi Pomalingo
Penerbit: Rumah Avela Totabuan
Tahun Terbit: 2025
Editor: SM
Penulis:

Fajrin Ramdhani Gobel adalah Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IAIN Manado Periode 2025-2026
