
Ilustrasi: Pribadi
20 februari 2026 adalah hari peringatan penggenapan nubuwatan pembaharu “Hasrat Mirzha Bashiruddin Mahmud Ahmad”, di Indonesia peringatan ini diperingati oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) secara serentak saya turut serta bersama-sama dengan Jemaat Ahmadiyah Manado, tapi sangat disayangkan saya terlambat.
Tiba di peace center Ahmadiyah Manado sudah masuk waktu berbuka puasa. Meski kegiatan sudah berakhir, saya tetap berdiam di peace center untuk mengikuti buka puasa bersama. Mengobrol santai sambil menikmati kudapan dan makan malam yang disediakan. Lepas dari situ, kami langsung menunaikan sholat isha, tarawih dan witir secara berjamaah.
Menjalani ritual bersama dengan muslim Ahmadiyah telah saya lakukan sejak tahun 2021. Saat itu saya sedang melakukan riset akhir studi di Yogyakarta. Sekitar delapan bulan habiskan waktu di sekretariat Ahmadiyah Cabang Sleman–yang memiliki fasilitas masjid dan perpustakaan.
Di Perpustakaan itulah Tesis saya bisa selesai. Selama berada di sini saya selalu disambut dengan hangat oleh Ustad Murti, Cima, Rizki dan pak Saefullah.
Pada malam itu suasana terasa khidmat Ustad Hafiz memimpin sholat Isya, sedangkan perwakilan dari khudam menjadi imam solat tarawih dan witir. Mereka sangat fasih merapalkan ayat-ayat suci Al-qur’an. Jemaat yang hadir tampak menikmati suasana yang teduh ini.
Tapi, mungkin suasana seperti ini berbeda rasanya dengan muslim Ahmadiyah di tempat lain, seperti yang ada di Lombok, di asrama Transito. Penyerangan tahun 2002 dan 2006 membuat muslim Ahmadiyah harus mengungsi di asrama Transito, Lombok. Mereka menempati ruang dengan berbataskan bilik-bilik perkeluarga. Jika dihitung sejak tahun 2006, ramadan kali ini adalah tahun ke 20 mereka menjalankan ibadah puasa bukan di rumah sendiri, tapi di tempat pengungsian.
Hal yang sama mungkin juga yang terjadi di Tasikmalaya. Pada 12 Februari 2026 sekelompok massa yang mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam melakukan demonstrasi di Kantor Bupati Tasikmalaya, mereka menuntut Pemkab agar menghentikan semua aktifitas Ahmadiyah.
Suasana ini mungkin membawa ketegangan bagi Muslim Ahmadiyah di Tasikmalaya. Tapi, Ahmadiyah sudah biasa menghadapi ketegangan, konflik, intoleransi dan persekusi. Tanpa satu pun membalas dengan cara yang sama bagi kelompok penekan. Di Tasikmalaya barangkali penuh dengan perasaan was-was, saat menjalani bulan puasa di tengah tekanan.
Tekanan terhadap Ahmadiyah tidak lahir dari ruang kosong, ia lahir dari konstruksi keagamaan dari berbagai pihak yang merasa diri mereka mewakili umat Islam. Inilah yang turut membentuk stigma terhadap Ahmadiyah.
Stigma yang beredar adalah Ahmadiyah sesat dan menyesatkan karena mengimani nabi yang berbeda dengan kelompok Islam yang lain, padahal jika anda mendengarkan shalawat muslim Ahmadiyah, sama seperti dengan shalawat pada umumnya. Dalam ritual-ritual yang akan menyebutkan shalawat kepada nabi Muhammad muslim Ahmadiyah merapalkan dan mengucapkannya.
Selain itu, ada yang berpandangan bahwa kitab suci Ahmadiyah adalah tadzkirah, sebuah karya yang ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad, bukanlah Al-qur’an. Jika kita datang ke masjid-masjid Ahmadiyah di sana ada Al-qur’an. Di bulan puasa seperti ini pasca melaksanakan sholat atau sebelum sholat berlangsung muslim Ahmadiyah sangat rajin membaca Al-qur’an. Tidak ada yang berbeda dengan muslim pada umumnya.
Orang atau kelompok yang memandang Ahmadiyah secara negatif lahir dari prejudice yang tidak berjangkar secara objektif. Mereka mendapatkan informasi tentang Ahmadiyah bukan dari sumbernya langsung. Itu pun informasi yang diterima secara sepotong-potong, ujung-ujungnya menjadi bias kesimpulan terhadap Ahmadiyah.
Apalagi ditambah dengan fatwa dari MUI tahun 1980 dan tahun 2005 yang memandang Ahmadiyah sesat, menyimpang dan menyesatkan. Padahal, fatwa ini butuh dikaji kembali. Fatwa adalah konstruk dari manusia, ia bahkan tidak tetap. Banyak pendekatan bisa dipakai untuk melakukan membongkar kembali fatwa-fatwa yang menyematkan kata “negatif” kepada muslim Ahmadiyah.
Mengapa Terus bersama Ahmadiyah?
Secara pribadi ikatan saya dengan muslim Ahmadiyah bukan lagi ikatan akademik, tapi sudah melebihi dari ikatan tersebut dan saya merasa sangat beruntung. Dibalik hubungan ini, sebagai aktivis Muhammadiyah pernah ada yang melontarkan singkatan bahwa saya adalah seorang muslim “Mu’Ah” (Muhammadiyah-Ahmadiyah). Entah ini hanya sekedar senda gurau atau dibalik itu ada prejudice. Ada juga sematan lain yang muncul, agen Ahmadiyah yang berkedok kader Muhammadiyah.
Saya sangat meyakini bahwa Ahmadiyah adalah bagian dari Islam, tidak ada yang beda dengan Islam yang lain: Persoalan terkait Khatamin Nabiyyin ini merupakan keragaman dalam menafsirkan Islam. Islam itu statis, sedangkan tafsiran terhadap Islam itu dinamis; multiruang, waktu dan diskursif.
Setiap orang pengikut agama, keyakinan maupun aliran tertentu pasti mengakui tafsirannya adalah benar dan memiliki jalan keselamatan. Bukan berarti menegasikan kelompok yang berbeda dengannya. Ruang-ruang dialog harus terus dibuka.
Memilih jalan untuk menyuarakan hak kebebasan dan kemerdekaan Ahmadiyah serta menemani muslim Ahmadiyah merupakan religious virtue atau religious imperative (Burhani, 2018). Menyuarakan hak beragama Ahmadiyah adalah suatu panggilan dan perintah keagamaan. Bahwa kita harus memihak pada orang-orang yang terpinggirkan, pada kelompok yang sengaja diminoritisasi.
Memang tidak banyak orang atau akademisi yang memilih jalan seperti ini. Dalam Muhammadiyah tokoh-tokoh yang menginspirasi untuk memilih jalur ini adalah Alm. Buya Syafii Maarif, Ahmad Najib Burhani dan Alm. Dawam Rahardjo. Mereka adalah intelektual Muhammadiyah yang memilih jalur akademik sebagai ladang pembelaan terhadap kemanusiaan.
Selaku akademisi, melihat Ahmadiyah bukan hanya sekedar subjek penelitian semata. Riset adalah jembatan untuk membuka suara bagi kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan. Saat melakukan riset terhadap Ahmadiyah, pikiran saya sangat terbuka dan membawa pada rasa kemanusiaan yang utuh.
Riset bukan berujung pada publikasi yang bereputasi.
Tapi dalam situasi seperti ini riset harus bermuara pada suara-suara yang menggemakan keadilan. Saya selalu berdoa semoga jalan ini terus konsisten dijalani. Love for all hatred for none.
Penulis:

Rohit Mahatir Manese adalah Ketua Umum DPD IMM Sulut Periode 2022-2024 dan Direktur MI ASM 2019-2022.