
Pada hari Selasa 3 Juni 2025. DPD IMM Sulawesi dan Madrasah Intelektual Ahmad Syafii Maarif (MIASM) melakukan kegiatan Sarasehan Bulan Buya Syafii yang bekerja sama dengan Maarif Institute dan LP2M IAIN Manado, kegiatan ini dilaksanakan di IAIN Manado.
Kegiatan Sarasehan ini dibuka oleh Prof. Ahmad Rajafi, M.HI, Rektor IAIN Manado. Dalam sambutannya Rajafi mengatakan Buya adalah sosok tokoh besar yang ada dalam sejarah Indonesia. Buya bukan hanya sekedar milik Muhammadiyah tapi Buya adalah milik Bangsa Indonesia.

Peserta yang hadir yakni mahasiswa IAIN Manado, PWA Sulawesi Utara, Cipayung Plus, LBH Manado, Jemaat Ahmadiyah, WOI, LP2M IAIN Manado, Ormawa IAIN Manado dan Universitas Muhammadiyah Manado. Peserta membludak dan mencapai 130 hadiri.
Keynote Speech pembuka dalam kegiatan ini disampaikan oleh Andar Nubowo, DEA, Ph.D. Dalam penyampaiannya, Andar mengatakan bahwa Buya adalah seorang intelektual dan negarawan yang telah banyak melakukan pencerahan bagi kita semua. Buya memiliki sikap pemikiran yang inklusif dan memiliki komitmen untuk membela kelompok minoritas. MAARIF Institute berkomitmen meneruskan legacy Buya Syafii dalam merawat nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan.

Acara ini mengundang narasumber Dr. Ardianto M.Pd dari (Ketua LP2M IAIN Manado), Natalia Lahamendu, M.Si yang hadir sebagai dosen (IAKN Manado), Adlan Ryan Habibie, (Dewan Pembina MI-ASM), dan juga Dr. Taufani, M.A (Alumni SKK II Maarif Institut).
Menurut Dr. Ardianto M.Pd (Kepala LP2M IAIN Manado) dalam sambutan sebagai panitia pelaksana kegiatan ini. Ia mengharapkan agar kegiatan ini menjadi penyebaran terhadap pemikiran luas, apalagi kegiatan ini dihadiri oleh berbagai perwakilan organisasi.
Adlan Ryan Habibie, mengulas Buya lewat aspek pemikirannya yang dipengaruhi oleh gurunya, Fazlur Rahman. Sehingga baginya Buya termasuk dalam pemikir yang progresif. Dalam akhir penyampaiannya, Buya menitipkan tiga hal penting: Pertama, perkuat tradisi iqra’ atau literasi. Kedua, jangan fanatik; Ketiga, perluas radius pergaulan.
Menurut Natalia Lahamendu, Buya melihat orang dalam kacamata kesetaraan. Makanya Buya menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dengan pemikiran inilah Buya dengan tegas menolak poligami.
Sedangkan pembicara ketiga, melihat Buya sebagai akademisi yang berlatar belakang ilmu Sejarah, bagiBuya sejarah adalah interprestasi, kata sejarah itu objektif tapi, bagaimana orang membunyikan sejarah itu adalah interprestasi. Salah satu kritik Buya terhadap sejarah islam adalah sejarah pasca nabi. Tukas Taufani.

Sebagai anak ideologis Buya MIASM dan DPD IMM Sulut berharap agar pemikiran Buya tentang keislaman, keindonesia dan kemanusiaan menjadi bagian dari gerakan sosial masyarakat. Sebab pemikiran dan pandangannya tentang keislaman, keindonesiaan dan kemanusian sering menjadi rujukan beberapa pemikir islam progresif. Untuk itu melalui Bulan Buya Syafii orang lebih memahami tentang Buya dan meneladani sikap kemanusiaan Buya.
Sikap kemanusiaan Buya, selalu menjadi pedoman untuk MIASM dan DPD IMM Sulut, yang terus berada di jalur perjuangan dan pemihakan pada kelompok rentan. Melalui lembaga sekoci MIASM. IMM Sulut selalu merawat hubungan dengan kelompok minoritas, terutama Ahmadiyah. IMM Sulut beberapa kali menyatakan sikap pembelaan terhadap Ahmadiyah saat Ahmadiyah mengalami diskriminasi dan intoleransi.
Editor: Fikli
Kontributor: Fajrin


