
Indonesia sering dihebokan oleh anak pejabat yang memiliki gaya hidup mewah dengan berlimpah harta, sedangkan anak dari keluarga miskin kesulitan untuk hidup sebagaimana mestinya apalagi mengakses pendidikan yang mereka impikan.
Anak pejabat yang menggunakan mobil mewah, memamerkan barang branded, pergi berlibur ke luar negeri, itu terjadi di tengah jutaan anak dari keluarga miskin yang putus sekolah dan harus berjuang untuk dapat duduk dibangku sekolah dan perguruan tinggi.
Ketidakmerataan sistem sosial dan pendidikan yang sangat mahal menyulitkan anak miskin dalam mengakses pendidikan secara penuh. Realitas yang dialami oleh anak miskin sangat jelas menunjukkan ada ketimpangan dalam masyarakat mulai dari masalah ekonomi sampai pendidikan.
Data Kemiskinan di Indonesia
Menurut Bank Dunia (world bank) merilis laporan Macro Poverty Outlook yang diterbitkan pada 10 April 2025, menyatakan bahwa 60,3% atau sekitar 171,91 juta jumlah penduduk di Indonesia masuk dalam kategori miskin.
Sementara pada tahun 2023 Bank Dunia menetapkan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah atas. Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia Gross National Income (GNI) atau Pendapat Nasional Bruto (PNB) per kapita. Walaupun diklasifikasikan sebagai negara berpenghasilan menengah atas, Indonesia masih mengalami masalah ketimpangan mulai dari pendidikan sampai akses terhadap pekerjaan.
Banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan pekerjaan dan berstatus sebagai pengangguran. Menurut Badan Statistik Pusat (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang, angka ini meningkat 1,11% dibandingkan data pada Februari 2024. Adapun data BPS juga menunjukkan tingkat pengangguran di wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan.
Data di atas menunjukkan bahwa kesenjangan sosial di Indonesia semakin melebar. Kesenjangan sosial merupakan perbedaan kondisi sosial yang kemudian dialami oleh sebagian individu yang menciptakan stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
Hal ini bisa terjadi karena ada distribusi sumber daya, kesempatan, kekuasaan, ekonomi dan akses yang tidak merata di semua aspek kehidupan masyarakat. Kesenjangan sosial ada bermacam-macam, mulai dari kesenjangan pendapatan, pendidikan, kekayaan, dan seterusnya.
Sementara itu, ramai bermunculan di media sosial sindiran satire yang bertema “kesenjangan sosial” yang menjadi viral di tiktok dan instragram, karena banyak anak-anak muda terutama gen z yang membuat konten sindiran tentang kesenjangan sosial yang dikemas dalam bentuk vidio singkat berisi percakapan sehari-hari antara dua orang.
Konten-konten bertema kesenjangan sosial dibuat dengan style yang santai dan penuh humor. Tapi, secara tidak langsung trend ini telah memperlihatkan bagaimana kelas sosial atau stratifikasi sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.
Sebab, isi percakapan dalam video konten yang bertema kesenjangan sosial tampak dengan jelas memperlihatkan adanya status sosial antara kelas atas dan kelas menengah ke bawah.
Kesenjangan sosial adalah fakta yang dialami masyarakat. Tren yang dimaksud barangkali singgungan dengan menggunakan media dan dilakukan oleh anak muda. Konten tersebut kemudian bisa dirangkum dan dibuat dalam bentuk konten positif dan refleksi kritis terhadap ketidakmerataan dalam sistem sosial. Oleh karena itu tulisan ini akan mengeksplorasi kesenjangan sosial yang terjadi dalam masyarakat melalui kerangka teori struktural fungsional dan teori konflik.
Teori Struktural Fungsional versus Teori Konflik
Dalam teori struktural fungsional, penganut teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat (Ritzer, 1975).
Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lain dan saling menyatu dalam keseimbangan.
Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap lainnya. Sebaliknya jika tidak lagi funsional maka stuktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.
Teori ini menekankan pada keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat. Penganut teori struktural fungional beranggapan bahwa semua aspek dalam kehidupan masyarakat itu punya fungsi. Dengan demikian pada tingkat tertentu kesenjangan sosial bahkan kemiskinan diperlukan oleh suatu masyarakat.
Jika terjadi konflik, penganut teori ini memusatkan perhatiannya kepada masalah bagaimana cara untuk menyelesaikan konflik itu sehingga masyarakat tetap berada dalam keseimbangan.
Adapun kemiskinan dipandang dengan perspektif struktural fungsional sebagai sesuatu yang wajar terjadi dalam masyarakat, karena bersifat fungsional bagi keberlangsungan sistem sosial dalam kehidupan masyarakat.
Robert K. Merton mencontohkan perbudakan yang terjadi dalam sistem sosial Amerika Serikat, khususnya di bagian selatan. Perbudakan tersebut jelas fungsional bagi masyarakat Amerika kulit putih. Karena menyediakan tenaga buruh yang murah. Hal ini kemudian menimbulkan statifikasi sosial dalam masyarakat kulit putih dan kulit hitam (Ritzer, 1975).
Stratifikasi sosial dan ekonomi dalam masyarakat menciptakan kesenjangan sosial. Kemiskinan masih tetap fungsional terhadap berbagai unit dalam masyarakat lainnya. Contohnya, Masyarakat miskin berfungsi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak bisa dikerjakan oleh masyarakat kaya. Sebaliknya, masyarakat kaya fungsional terhadap masyarakat miskin, karena masyarakat miskin mengharapkan upah dari masyarakat kaya. (Ritzer, 1975) Herbert Gans menilai kemiskinan saja fungsional dalam suatu sistem sosial.
Dengan mengedepankan keseimbangan dan terlalu memberikan tekanan kepada keteraturan (order) dalam masyarakat dan sering mengabaikan konflik dalam perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat senantiasa berada dalam keseimbangan.
Pandangan ini berbeda dengan teori konflik, teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori struktural fungsional. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan proposisi yang terdapat dalam Teori Struktural Fungsional (Ritzer, 1975).
Pandangan teori konflik yang berbeda dengan penganut teori struktural fungsional dalam memahami masyarakat. Jika teori struktural fungsional melihat adanya keteraturan dan kesatuan dalam masyarakat, maka penganut teori konflik justru melihat masyarakat merupakan arena bagi kelompok individu masyarakat untuk bersaing mendapatkan power dan kontrol sosial dalam sistem sosial.
Dengan persaingan yang ada dalam masyarakat, pemilik modal lah yang bisa menentukan posisi individu dalam struktur sosial. Pemilik modal memiliki kontrol penuh terhadap distribusi ekonomi dan menentukan posisi kelas dalam sistem sosial. Karl Marx membagikan kelas sosial menjadi dua kelas yaitu, borjuis dan proletar.
Sementara menurut Ralf Dahrendorf, keteraturan dalam masyarakat terjadi karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa. Begitu juga dengan kemiskinan, bukan karena menjaga keseimbangan dalam sistem sosial, melainkan ada tekanan dari sturktur sosial untuk memperoleh kepentingan kelas yang berkuasa.
Sayangnya, kemiskinan bukan untuk mempertahankan keseimbangan sistem sosial. Melainkan kemiskinan diciptakan agar kelas atas selalu mempertahankan status quo dan mendominasi kelas bawah. Ketidakmerataan dalam akses ekonomi, kesehatan, pendidikan akan menciptakan kesenjangan yang panjang dalam struktur sosial.
Kemiskinan tidak berfungsi bagi masyarakat miskin, karena akan menjadi instrumen penindasan dan kontrol sosial yang memperkuat dominasi kelas atas terhadap kelas bawah. Masyarakat miskin tidak hanya dimiskinkan secara ekonomi, tetapi juga kelas bawah dikekang untuk berada di posisi paling rendah.
Oleh sebab itu, kesenjangan sosial harus dilihat sebagai bentuk kegagalan stuktural. Kesenjangan sosial akan membenturkan antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah dalam memperebutkan akses sumber daya, ekonomi, pendidikan.
Selama distribusi kekuasaan dan sumber daya yang tidak merata, hal ini akan menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik dalam sistem sosial dan melanggengkan kesenjangan sosial yang secara sistematis diciptakan oleh kekuasaan.
Daftar Pustaka
George Ritzer, 2021, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Rajawali Pers, Cetakan. 14. Depok.
Kompas.com, “Mengapa 60 Persen Penduduk Indonesia Dikategorikan Miskin oleh Bank Dunia?”, 1 Mei 2025.
Cantika Adinda Putri, Bank Dunia: RI Masuk Negara Kelas Menangah Atas, CNBC Indonesia, Juli 2023,
Fahri Zulfikar, BPS: Pengangguran Mencapai 7,28 Juta Orang, Terbanyak Pada Usia di Bawah 24 Tahun, Detik.com, 6 Mei 2025.
Editor: RM
Penulis:

Fajrin Ramdhani Gobel adalah Ketua Bidang Riset & Pengembangan Keilmuan Pimpinan Komisariat Averroes Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IAIN Manado Periode 2024-2025.