
Gagasan-gagasan Islam dalam perkembangannya sering kali bersinggungan dengan ide-ide yang lahir dari kondisi sosial dan zaman yang berbeda.
Persinggungan tersebut tidak jarang membentuk cara umat memahami dan menjalankan keberagamaannya, baik dalam ranah pemikiran maupun tindakan. Islam tidak berkembang dalam ruang yang kosong; ia selalu berhadapan dengan kenyataan sosial yang terus berubah. Dalam konteks Indonesia pada awal abad ke-20, salah satu bentuk persinggungan tersebut dapat dilihat dalam perkembangan Sarekat Islam.
Pada awal abad ke-20, masyarakat Hindia Belanda hidup dalam struktur kolonial yang menghasilkan ketimpangan ekonomi, sosial, dan politik. Di tengah kondisi tersebut, semangat kemerdekaan mulai tumbuh bersama munculnya kelompok-kelompok terdidik dan organisasi pergerakan. Perkembangan pendidikan yang didorong oleh Politik Etis, meskipun pada awalnya merupakan bagian dari kebijakan kolonial, justru ikut melahirkan kelompok pribumi yang mulai mampu membaca kondisi masyarakatnya sendiri. Dari situ, berbagai organisasi dan perkumpulan mulai bermunculan dengan membawa gagasan mengenai perubahan sosial dan kemerdekaan. (Tsabit, 2014)
Salah satunya adalah Sarekat Islam. Organisasi ini pada mulanya lahir dari kepentingan ekonomi melalui Sarekat Dagang Islam. Namun, dalam perkembangannya, organisasi tersebut tidak lagi hanya berbicara mengenai perdagangan. Di bawah kepemimpinan Haji Omar Said Cokroaminoto, Sarekat Dagang Islam berkembang menjadi Sarekat Islam dan memperluas gerakannya ke wilayah sosial, politik, dan keagamaan. (Wilandra & Imas, 2022)
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama. Ada perubahan orientasi yang lebih besar di dalamnya. Persoalan ekonomi yang pada awalnya menjadi perhatian organisasi kemudian bertemu dengan persoalan kolonialisme, ketimpangan sosial, dan kehidupan masyarakat pribumi. Sarekat Islam perlahan berubah menjadi organisasi massa yang tidak hanya memperjuangkan kepentingan kelompok pedagang, tetapi juga berbicara mengenai persoalan masyarakat secara lebih luas.
Cokroaminoto menjadi salah satu tokoh penting dalam perubahan tersebut. Melalui tulisan dan pidato-pidatonya, ia menyuarakan kritik terhadap praktik kolonial yang mengeksploitasi masyarakat pribumi. Ia menggaungkan pembebasan, perlawanan, dan kemerdekaan.
Dalam pemikirannya, Islam tidak berhenti sebagai ajaran individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang berkaitan dengan persoalan keadilan, persamaan, dan pembelaan terhadap masyarakat yang mengalami penindasan. Di titik inilah Sarekat Islam menjadi menarik. Organisasi tersebut tidak hanya mempertemukan umat Islam dalam satu identitas keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan politik yang berkembang pada masa itu. Salah satunya adalah sosialisme dan Marxisme.
Ketika Sosialisme Masuk ke Sarekat Islam
Untuk memahami persinggungan tersebut, terlebih dahulu perlu melihat kondisi sosial yang melatarbelakangi berkembangnya sosialisme. Gagasan sosialisme berkembang sebagai respons terhadap perubahan besar yang berlangsung setelah Revolusi Industri di Eropa. Industrialisasi tidak hanya melahirkan kemajuan teknologi dan produksi, tetapi juga menciptakan ketimpangan antara mereka yang menguasai alat produksi dengan mereka yang harus menjual tenaga untuk mendapatkan upah.
Dalam pembacaan Marxis, persoalan tersebut tidak semata-mata dilihat sebagai persoalan individu yang kaya dan miskin. Ketimpangan dilihat sebagai bagian dari struktur hubungan produksi. Pemilik alat produksi memiliki kendali terhadap proses produksi, sedangkan buruh berada dalam posisi menjual tenaga kerjanya. Dari hubungan tersebut kemudian muncul gagasan mengenai kelas, eksploitasi, dan perjuangan kelas. (F. Magnus, 2016)
Sederhananya, Marx melihat masyarakat kapitalis melalui hubungan antara mereka yang memiliki alat produksi dan mereka yang tidak memilikinya. Hubungan tersebut menghasilkan kepentingan yang berbeda. Pemilik modal berkepentingan mempertahankan dan mengembangkan modal, sedangkan pekerja bergantung pada upah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari sinilah muncul kesadaran bahwa ketimpangan tidak hanya disebabkan oleh perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan struktur ekonomi yang mengatur hubungan antara manusia.
Gagasan semacam ini kemudian menemukan konteksnya ketika masuk ke masyarakat kolonial Hindia Belanda. Masyarakat pribumi mengalami berbagai bentuk ketidakadilan dalam kehidupan ekonomi dan politik. Para pekerja di perkebunan dan sektor-sektor ekonomi kolonial berhadapan dengan struktur yang menempatkan mereka pada posisi yang lemah. Dalam konteks yang berbeda dengan Eropa, kolonialisme juga menciptakan hubungan sosial yang timpang antara penguasa kolonial dan masyarakat pribumi.
Pada saat yang sama, gagasan mengenai persatuan umat Islam dan perlawanan terhadap kolonialisme juga berkembang. Pan-Islamisme memberikan bahasa politik mengenai pentingnya persatuan umat Islam dalam menghadapi dominasi kolonial. Dengan demikian, masyarakat Muslim pada masa itu berhadapan dengan lebih dari satu gagasan mengenai pembebasan, Islam menawarkan basis persatuan dan moral, sementara sosialisme menawarkan pembacaan mengenai ketimpangan dan eksploitasi sosial.
Sarekat Islam sebagai Ruang Pertemuan
Kehadiran Sarekat Islam berangkat dari realitas masyarakat yang hidup di bawah kolonialisme. Islam menjadi salah satu basis persatuan yang memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu organisasi. Namun, semakin luasnya organisasi membuat Sarekat Islam tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga dengan persoalan ekonomi dan politik.
Dalam kondisi tersebut, gagasan sosialisme dan Marxisme mulai memperoleh ruang di dalam lingkungan Sarekat Islam. Tokoh-tokoh seperti Semaoen, Darsono, dan Alimin semakin dekat dengan gagasan sosialisme dan gerakan komunis. Mereka melihat persoalan masyarakat tidak hanya sebagai persoalan kolonialisme dalam arti penguasaan bangsa atas bangsa lain, tetapi juga sebagai persoalan hubungan ekonomi dan kelas.
Islam memiliki tradisi yang kuat mengenai keadilan sosial, persaudaraan, dan penolakan terhadap penindasan. Sementara itu, sosialisme-Marxis memberikan bahasa yang lebih struktural untuk menjelaskan mengapa penindasan dan ketimpangan dapat terus berlangsung.
Ketimpangan tidak hanya dipahami sebagai akibat keserakahan seseorang, tetapi juga sebagai akibat dari hubungan sosial-ekonomi yang memungkinkan sebagian kelompok menguasai sumber daya sementara kelompok lain berada dalam posisi yang bergantung. Pertemuan tersebut tidak berarti bahwa Islam dan Marxisme memiliki ajaran yang sama. Keduanya memiliki landasan filosofis yang berbeda. Namun, dalam konteks gerakan Sarekat Islam, keduanya dapat bertemu pada persoalan yang sama yaitu bagaimana menghadapi ketidakadilan dan dominasi kolonial serta bagaimana membangun masyarakat yang lebih adil.
Cokroaminoto sendiri berusaha mempertemukan nilai-nilai Islam dengan gagasan mengenai sosialisme. Baginya, gagasan mengenai persamaan dan kehidupan bersama bukan sesuatu yang sepenuhnya asing dalam Islam. Ia melihat bahwa ajaran Islam mengandung prinsip-prinsip yang dapat menjadi dasar bagi kehidupan sosial yang tidak didasarkan pada penindasan manusia terhadap manusia lainnya.
Dengan demikian, sosialisme yang berkembang dalam lingkungan Sarekat Islam tidak hadir dalam ruang kosong. Ia bertemu dengan masyarakat yang sebelumnya telah memiliki bahasa keagamaan untuk memahami persoalan keadilan dan penindasan. Marxisme kemudian memberikan bahasa lain untuk membaca persoalan tersebut melalui konsep kelas, kapital, dan eksploitasi.
Ketika Titik Temu Berubah Menjadi Perpecahan
Namun, pertemuan tersebut tidak berlangsung tanpa persoalan. Semakin kuatnya pengaruh sosialisme dan Marxisme di sebagian lingkungan Sarekat Islam justru memunculkan perdebatan mengenai arah organisasi. Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi massa dengan anggota dan latar belakang pemikiran yang beragam. Di satu sisi terdapat kelompok yang mempertahankan Islam sebagai dasar utama gerakan. Di sisi lain terdapat kelompok yang semakin dekat dengan sosialisme dan komunisme serta melihat perjuangan kelas sebagai bagian penting dari perjuangan melawan penindasan.
Perbedaan tersebut bukan sekadar perbedaan cara berpikir, tetapi kemudian berkembang menjadi persoalan mengenai arah gerakan. Apakah perjuangan Sarekat Islam harus diletakkan terutama dalam kerangka Islam Ataukah perjuangan tersebut harus bergerak lebih jauh menuju sosialisme dan perjuangan kelas.
Perselisihan tersebut semakin tajam hingga pada Rapat Istimewa Sarekat Islam di Surabaya pada Oktober 1921. Kebijakan mengenai larangan rangkap keanggotaan kemudian memperlebar jarak antara kelompok yang semakin dekat dengan gerakan komunis dan kelompok yang tetap mempertahankan orientasi Islam Sarekat Islam. Dari proses tersebut kemudian dikenal pembelahan antara Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah. Sarekat Islam Putih mempertahankan orientasi Islam dalam gerakannya, sementara Sarekat Islam Merah berkembang di kalangan tokoh-tokoh yang semakin dekat dengan sosialisme-komunisme. (Tsabit, 2014)
Perpecahan tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang penting. Titik temu antara Islam dan Marxisme dalam Sarekat Islam tidak berarti bahwa keduanya dapat melebur menjadi satu ideologi. Mereka dapat bertemu dalam persoalan tertentu, terutama mengenai ketidakadilan sosial dan kolonialisme, tetapi tetap memiliki perbedaan dalam landasan pemikiran dan arah perjuangan.
Kelompok Sarekat Islam Merah kemudian berkembang menjadi Sarekat Rakyat dan sebagian tokohnya terlibat dalam perkembangan Partai Komunis Indonesia. Sementara itu, Sarekat Islam tetap melanjutkan perjalanan politiknya dengan mempertahankan Islam sebagai salah satu basis utama gerakan.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Sarekat Islam bukan organisasi yang bergerak dalam satu garis pemikiran yang tunggal. Justru karena menjadi organisasi massa, Sarekat Islam menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan yang berkembang pada zamannya. Islam, nasionalisme, Pan-Islamisme, sosialisme, dan Marxisme saling berinteraksi dalam ruang gerakan yang sama.
Sarekat Islam dan Persoalan Pembebasan
Dari perjalanan Sarekat Islam tersebut, titik temu antara Islam dan Marxisme dapat dilihat bukan sebagai kesamaan seluruh ajaran, melainkan sebagai perjumpaan dua gagasan dalam menghadapi persoalan sosial yang konkret. Islam memberikan basis identitas, persaudaraan, dan nilai keadilan bagi gerakan. Sementara sosialisme-Marxis memberikan kerangka untuk membaca ketimpangan melalui hubungan kelas dan struktur ekonomi. Keduanya kemudian bertemu dalam pengalaman masyarakat Hindia Belanda yang hidup di bawah kolonialisme.
Karena itu, menarik jika Sarekat Islam tidak hanya dibaca sebagai organisasi yang berperan dalam sejarah kebangkitan nasional, tetapi juga sebagai ruang pertemuan gagasan. Di dalamnya terlihat bagaimana sebuah gerakan Islam berhadapan dengan ideologi modern yang berasal dari tradisi pemikiran yang berbeda.
Pertemuan tersebut menghasilkan sesuatu yang kontradiktif. Di satu sisi, sosialisme-Marxis turut memberikan bahasa perjuangan bagi sebagian anggota Sarekat Islam untuk membaca persoalan eksploitasi dan ketimpangan. Di sisi lain, semakin kuatnya pengaruh tersebut justru melahirkan perdebatan mengenai identitas dan arah perjuangan organisasi.
Dengan demikian, sejarah Sarekat Islam memperlihatkan bahwa perjumpaan Islam dan Marxisme tidak selalu harus dibaca sebagai pertentangan mutlak sejak awal. Keduanya pernah bertemu dalam konteks sejarah tertentu, terutama ketika berhadapan dengan persoalan kolonialisme, ketimpangan, dan penindasan. Namun, pertemuan tersebut juga memiliki batas ketika pertanyaan mengenai dasar ideologi dan arah perjuangan mulai menjadi persoalan utama.
Sarekat Islam akhirnya menjadi salah satu contoh bahwa sebuah gerakan tidak pernah sepenuhnya steril dari pengaruh pemikiran di luar dirinya. Gagasan-gagasan tersebut dapat diterima, diperdebatkan, diolah, bahkan ditolak kembali sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang mengalaminya. Dalam konteks itulah pertemuan Islam dan Marxisme dalam Sarekat Islam menjadi penting bukan karena keduanya identik, tetapi karena dari perjumpaan tersebut kita dapat melihat bagaimana gagasan politik bekerja ketika berhadapan langsung dengan realitas sosial.
Referensi
Tsabit Azinar Ahmad. Sarekat Islam dan Gerakan Kiri di Semarang 1917-1920. Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang, 2014.
Syaidina Sapta Wilandra. Sarekat Islam sebagai Gerakan Sosial: Dari Gerakan Ratu Adil ke Sosialisme Islam. Socio Historica, Vol 1, No 1, 2022.
Franz Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Gramedia Psutaka Utama, 2016.
Jusuf Wibisono. Islam dan Sosialisme. Bulan-Bintang Perpustakaan Djakarta, 1950.
Firman Manan. Sosialisme Islam: Perpektif Pemikiran Politik H.O.S Tjokroaminoto. Jurnal Wacana Politik, Vol 1 Nomor 1. Universitas Padjajaran, 2016.
Editor : SM
Penulis

Zidni Ilham Sayfuddin merupakan Sekretaris Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik (HPKP) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Manado periode 2026-2027
